Pages

Nggak Jadi ke Tiongkok, Jadinya ke Thailand (Cerita PPAN 2016)



Mungkin dari judul post ini, sudah pada tahu ya arah pembicaraannya akan kemana. Tapi mungkin ada beberapa pengunjung baru blog ini yang belum tahu, jadi aku akan jelasin secara kronologis #PAMZstory kali ini. Semoga dapat tulisan ini dapat menginspirasi.

Berawal dari keinginan pribadi untuk mengikuti event Internasional, akhirnya tahun kemarin aku memberanikan diri untuk mengikuti seleksi PPAN (karena memang telah berbulan-bulan hingga bertahun-tahun ingin apply program ini tapi karena beberapa aktivitas jadi tertunda).

Buat kalian yang belum tahu PPAN kalian kemana aja? Berikut sedikit gambaran mengenai PPAN.
PPAN adalah program Pertukaran Pemuda Antar Negara yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI dengan pemerintah di negara tujuan. Program ini sudah berlangsung selama +/- 40 tahun dan sudah melahirkan banyak alumni, di antaranya adalah Azyumardi Azra (mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta/cendekiawan muslim), AM Fachir (Wakil Menteri Luar Negeri RI), Fasli Jalal (Wakil Menteri Pendidikan & Kebudayaan RI), A. Fuadi (penulis novel Negeri 5 Menara), dan Andrie Djarot (host Redaksi Pagi Trans 7).
Jadi simplenya sih PPAN itu program dari Kemenpora untuk mengirim duta Indonesia ke program kerjasama kepemudaan antar negara. Ada beberapa program untuk PPAN ini, diantaranya:
SSEAYP (Ship for South East Asia Youth Program)
ICYEP (Indonesia-Canada Youth Exchange Program)
AIYEP (Australia-Indonesia Youth Exchange Program)
IMYEP (Indonesia-Malaysia Youth Exchange Program)
IChYEP (Indonesia – China Youth Exchange Program)
IKYEP (Indonesia – Korea Youth Exchange Program)
ASVI (ASEAN Students Visit India)


Untuk informasi selengkapnya mengenai PPAN, bisa dilihat disini

Gimana? Sudah dapat gambaran kan mengenai PPAN?
Proses seleksi “pencarian” duta bangsa ini dilakukan di setiap provinsi. Karena jumlah peserta yang dikirim di setiap program berbeda-beda, jadi setiap provinsi mendapatkan “jatah” tertentu untuk mewakilkan pemuda di daerahnya. Maksudnya di sini setiap provinsi mendapatkan kuota tertentu untuk memenuhi kuota nasional di setiap program. Contoh : Provinsi Jawa Tengah tahun 2016 mendapatkan kuota ASVI perempuan, AIYEP laki-laki, IChYEP laki-laki, IMYEP laki-laki, dan SSEAYP perempuan. Kuota ini akan berbeda dari tahun ke tahun.

Brosur seleksi PPAN Jateng tahun 2016

Lanjut ke cerita. . .

Nah, aku memilih untuk mengikuti seleksi IChYEP. Alasannya adalah ingin melihat amoy amoy China aku tertarik dengan perkembangan China (mari selanjutnya kita sebut Tiongkok) dalam bidang ekonomi. Aku juga tertarik dengan budaya dan etos kerja masyarakat Tiongkok.

Aku pun apply ke program ini. Proses seleksinya cukup banyak, dari mulai Seleksi Administrasi, Seleksi Tertulis dan FGD, dan Seleksi Final (Wawancara dan Unjuk Bakat). Setelah lolos seleksi administrasi, kandidat diminta untuk melakukan seleksi selanjutnya di Gedung Dikpora Jateng di Semarang. Saat itu untuk program IChYEP ada sekitar 30an peserta yang lolos dan diundang untuk tes tertulis. Setelah kenalan dengan beberapa kandidat, ternyata mereka rata-rata sudah beberapa kali mengikuti seleksi PPAN, bahkan ada yang sampai 3x mencoba. Wah tangguh sekali mereka, pikirku. Saat itu aku datang kesana dan registrasi ulang dengan menyerahkan dokumen. Dan yang bikin aku gemetaran, yang ngumpulin berkasku adalah kak Anindya Kusuma Putri, Putri Indonesia 2015. Dia adalah alumni program SSEAYP 2014. Agak gugup pas berbincang dengan dia J Kemudian tes tertulis dilaksanakan, dan alhamdulillah aku lolos juga. Peserta yang tidak lolos langsung disuruh pulang, yang lolos melanjutkan ke tahap FGD. Waktu itu yang lolos ke FGD ada 10 orang dan dibagi menjadi 2 kelompok. Dari 10 orang ini ada 3 orang anak Undip, yaitu : aku, Mas Gustiasa (Mawapres Undip 2015), dan Heranantio (Vice President AIESEC Undip) yang kebetulan kami berada dalam satu kelompok. 7 orang lainnya pun keren-keren, sayang aku tak sempat berkenalan secara mendalam dengan mereka. Dalam hati aku berkata “I just a speckle dust in this universe” atau yang sering kita ucapkan “aku mah cuman butiran debu”.


 Foto bareng kak Anin, Puteri Indonesia 2015

Namun aku pun tak gentar, tetap kujalani FGD dengan serius. Peserta yang lolos ke tahap final hanya 5 orang, dan sayangnya aku tidak lolos. L Dari kelompokku yang lolos adalah Heranantio dan Alfiyan (dari IPB kalau tidak salah). Oiya, di sini aku dapet pelajaran kalau FGD harus bersikap terbuka, jangan terlalu mendominasi, dan dapat menerima pendapat orang lain. Beberapa hari kemudian diketahui bahwa yang lolos mewakili Jawa Tengah dalam program IChYEP ini adalah Mas Doni Achsan. Beliau emang keren banget. Beliau adalah Mawapres II UGM 2015, XL Future Leader, dan bahkan dia juga pernah ikut program YES, yaitu program exchange ke USA pas dia masih SMA. Emang pantes ya kalau dia yang menang.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari demi hari dalam kesedihan karena gagal seleksi akhirnya aku nemu info di internet yang bikin aku kegirangan. Ternyata ada seleksi nasional IChYEP. Jadi ceritanya kan tiap provinsi sudah memilih wakilnya untuk IChYEP, nah karena kuota IChYEP sekitar 50 dan provinsi di Indonesia ada 34, jadi untuk memenuhi kuota tersebut diadakan seleksi nasional untuk IChYEP. Aku pun daftar. Aku merasa ini seperti Kesempatan Kedua yang didamba-damba.

Proses seleksinya dilaksanakan secara online dan skype. Untuk seleksi administrasinya menurutku lebih susah daripada seleksi provinsi, karena di seleksi nasional, kita diminta untuk membuat Post Program Activity, semacam program yang harus kita lakukan setelah program jika kita lolos. Peserta seleksi nasional ini sangatlah banyak, sekitar 5700an orang. Busyeeettt kan. Tiap tahapan seleksi menggunakan sistem gugur, dan seleksi ini lamanya hampir 1 bulan. Jadi bisa dibayangkan betapa deg-degannya setiap ada pengumuman setiap tahap. Alhamdulillah aku lolos sampai tahap akhir, yaitu tahap wawancara melalui Skype. Peserta yang tersisa di tahap ini adalah 50 orang (Bisa dibayangkan dari 5700an orang hingga tersisa 50 orang). Aku pun menjalani tes terakhir ini dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin, mulai dari pakaian, potongan rambut, bahkan aku membeli wallpaper kain di took kain Semarang sebagai background saat wawancara nanti.

Niat banget wawancara di kos

Dan setelah mengantri dari jam 8 pagi sampai jam 11an siang tes wawancara pun tiba. Tapiiiiiiiii, yang membuatku merasa down, mas-mas pewawancaranya meminta untuk wawancaranya dilakukan hanya menggunakan panggilan suara saja. Which is it means semua usaha untuk “menampilkan” penampilan pun sia sia. Tapi, aku tetap menjalani tes tersebut.
Setelah berhari-hari dengan penuh kecemasan, hari pengumuman wawancarapun tiba. Peserta yang lolos untuk program ini di seleksi nasional adalah 20 orang. Dan aku gagal (lagi). Dan aku kembali terpuruk. Aku pun tak lupa mengevaluasi “penyebab” kegagalanku agar bisa lebih baik dalam menghadapi seleksi serupa.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tuhan Maha Baik.
Waktu itu hari Minggu, 14 Agustus pukul 12:08 aku dikejutkan dengan munculnya sebuah chat Whatsapp di HPku dari salah satu panitia penyelenggara seleksi nasional IChYEP kemarin. Berikut bunyinya:

Chat itu datang

Aku merasa ini seperti Kesempatan Ketiga untukku. Tuhan Maha Baik. Bahkan Raisa hanya diberikan Kesempatan Kedua, namun aku diberikan Kesempatan Ketiga J. Jadi aku dinominasikan oleh Kemenpora ke program lain karena peringkatku tes IChYEP. Aku pun apply ke program tersebut walaupun persyaratannya cukup banyak dan cukup lelah ngurus dokumen. Dari beberapa orang yang “dinominasikan” ini diseleksi lagi hingga akhirnya ada 7 orang terpilih untuk mewakili Indonesia di AY-REPSE (ASEAN Youth Representative in Experiencing the Philosophy of Sufficiency Economy). Dan Alhamdulillah aku terpilih.
Cerita tentang pengalaman seru-ku di program AY-REPSE dapat dilihat di link berikut.

Kesimpulannya :
- Jangan pernah rendah diri dan berprasangka buruk terhadap potensi diri
JJadilah percaya diri, namun jangan sombong dan tetap rendah hati
- Persiapkan segala hal, sedetail mungkin dengan baik, misalnya : jangan sampai salah kostum (seperti saya)
- Jadilah tangguh!

Dari pengalamanku ini aku sadar bahwa sebagai manusia kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mencapai impian yang kita inginkan. Walaupun memang berat, namun jika kita sudah “niat” dan memiliki mental “tangguh”, kegagalan akan terasa sebagai batu loncatan untuk menjadi lebih baik. Ibarat ketapel, kita mundur selangkah untuk melompat lebih jauh. Walau akhirnya Tuhan-lah yang menentukan dimana kita akan ditempatkan. Tapi kita harus yakin bahwa Tuhan tahu yang terbaik untuk kita.



Pamungkas Zone

Life is an Adventure!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar